Apabila kita mencermati altar Buddha Gotama yang terdapat di Ârâma, Vihâra, Cetiya ataupun di rumah-rumah umat Buddha (yang berpedoman pada Kitab Suci Tipitaka, maka akan ditemui benda-benda yang terdapat di atas altar tersebut adalah Buddharûpam (atau Arahattarûpam) tidak wajib ada dan Âmisa-pûjâ (benda-benda persembahan). Benda-benda persembahan yang terdapat dalam altar di antaranya : air, dupa/gaharu atau hio, pelita/ lampu/lilin, dan bunga, sedangkan makanan serta buah-buahan merupakan benda persembahan yang tidak wajib.
Buddharûpam / Arca Buddha (atau Arahattarûpam) bukanlah sebagai objek pemujaan yang kepada-Nya kita memohon dan meminta sesuatu (apakah supaya menjadi kaya, banyak rezeki, usaha lancar, penyakit dapat disembuhkan, menginginkan anak sesuai dengan apa yang diharapkan maupun berjodoh) atau pun sebagai sasaran untuk mengadu segala keluh kesah yang dihadapi oleh manusia atau sebagai tempat untuk meminta ampun atas segala kesalahan yang telah dilakukan atau pun meminta bantuan/pertolongan.Namun dapat dijadikan sebagai tempat menyatakan tekad atau ber-aditthana untuk menjadi upâsaka atau upâsikâ, sâmanera, bhikkhu, dan untuk berbuat baik. Buddharûpam merupakan simbol dari bukti nyata bahwa ada seorang manusia yang telah mencapai Penerangan Sempurna yang telah membabarkan Dhamma yang mulia, yang indah pada awalnya, yang indah pada pertengahannya, dan indah pula pada pengakhirannya (Yo Dhammam desesi âdikalyânam majjhekalyânam pariyosânakalyânam). Beliau adalah Guru Agung umat manusia yang memiliki kebijaksanaan agung (Mahâ Paññâ), kesucian yang luhur (Mahâ Parisuddhi), dan welas asih yang universal (Mahâ Karunâ) yang telah dikembangkan dan diwujudkan dalam kehidupan-Nya. Hal tersebut dilakukan selama 45 tahun setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna; Nibbâna melalui pembabaran Dhamma yang dilakukan-Nya terus-menerus dengan jadwal sehari-hari yang sangat padat. Bahkan Beliau hanya tidur satu jam setiap harinya. Perjuangan dan pengorbanan Beliau-lah yang membuat manusia menjadikan sosok Buddha sebagai kiblat atau sebagai fokus yang diletakkan di atas altar. Buddharûpam sesungguhnya bukanlah objek yang wajib, karena tanpa Buddharûpam umat Buddha dapat melakukan aktivitas Dhamma di dalam kehidupan sehari-hari detik per detik. Praktik Dhamma adalah yang utama. Buddha sendiri menyarankan agar Bhikkhu Ânanda menasihati Upâsaka Anathapindika melakukan penghormatan kepada Bodhirukkha / pohon Bodhi ketika Beliau tidak berada di tempat. Hal ini disampaikan oleh Buddha berkaitan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Upâsaka Anathapindika kepada Bhikkhu Ânanda mengenai penghormatan yang seharusnya dilakukan apabila Buddha Gotama tidak berada di Jetavanârâma. Dengan demikian merupakan pernyataan yang salah (kalau boleh dikatakan orang yang menyatakan tersebut tidak mengerti Dhamma dengan benar dan jelas) apabila dinyatakan bahwa umat Buddha menyembah BERHALA. Karena umat Buddha yang benar adalah umat Buddha yang melakukan pujabhatti dengan menguncar ulang apa yang telah disampaikan oleh Buddha. Seyogianya umat tidak melakukan permohonan atau pun permintaan apa-apa. Sesungguhnya Buddharûpam digunakan sebagai :
1. Lambang penghormatan sebagai tanda terima kasih dan anumodâna atas segala upaya Beliau mencapai Penerangan Sempurna sehingga sampai hari ini banyak umat yang tertolong dan terbantu dengan Dhamma yang telah Beliau uraikan.
2. Sarana atau alat/objek untuk bermeditasi karena keagungan, kemuliaan, dan cinta kasih yang universal yang Beliau pancarkan. Dengan melihat rûpam-Nya saja (apabila dalam pembuatannya sesuai dengan Dhamma dan Vinaya), kita telah dapat merasakan kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman serta segan atas dedikasi dan wibawa, juga kharima Beliau. Hal ini-lah yang dijadihan perenungan dari Buddharûpam. Bukan karena sebagai sosok manusia, maka kita memohon-mohon layaknya para pengemis jalanan mengemis makanan atau uang sebagai tanda berbelas kasihan. Secara Dhamma, umat tidak dapat meminta dan memohon sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diingini, karena tanpa menciptakan sebab maka tidak akan ada akibat yang diterima.
3. Visi kedepan umat Buddha. Buddha adalah gelar kesucian yang diberikan kepada Pertapa Gotama (adalah Pangeran Siddhattha Gotama anak dari Raja Sudodhana dan Ratu Mahâ Maya yang memerintah Kerajaan Kapilavatthu) karena Beliau telah mencapai Penerangan Sempurna di bawah Pohon Bodhi. Tujuan Pangeran Siddhattha Gotama meninggalkan istana yang megah dan penuh dengan kebahagiaan duniawi adalah untuk membebaskan diri dari dukkha karena mengalami kelahiran, kelapukan, dan kematian. Jadi dengan melihat Buddharûpam, maka dalam diri kita timbul pemahaman bahwa suatu saat nanti saya sebagai murid/siswa Beliau akan mencapai Nibbâna. Inilah sebenarnya tujuan akhir dari setiap umat Buddha. Sementara tujuan jangka pendeknya adalah hidup berbahagia di dunia ini, dan tujuan jangka menengahnya adalah meninggal dunia akan terlahir di alam Surga yang penuh dengan kebahagiaan.